Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi ﷺ minat-Takbiri ilat-Taslim Ka-annaka Taraha
(Sifat Shalat Nabi ﷺ Mulai dari Takbir sampai Salamnya, Seakan-akan Anda Melihatnya)
Kelima pertemuan ini bukan potongan terpisah. Semuanya satu alur logis yang menjawab satu pertanyaan besar: mengapa kita perlu belajar shalat dari dalil, bukan sekadar ikut-ikutan?
Shalat adalah rukun Islam ke-2, amal pertama yang dihisab, dan pengontrol perilaku seorang hamba. Kalau sepenting ini, wajar kalau kita harus belajar melakukannya dengan benar.
Kesimpulan: shalat menentukan nasib amal yang lainSyaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani — dari tukang servis jam menjadi ahli hadits terbesar di zaman ini, karena ketekunan luar biasa (rata-rata 16 jam sehari membaca di perpustakaan).
Kesimpulan: penulisnya bukan orang sembaranganMurid-muridnya menjadi ulama besar, karyanya fenomenal, dan Syaikh Bin Baz serta Syaikh Al-Utsaimin memuji beliau setinggi-tingginya. Ini yang membuat kitabnya layak dipercaya.
Kesimpulan: kredibilitas ilmiahnya kuatKarena kitab-kitab shalat yang ada umumnya terikat satu madzhab saja dan memuat banyak hadits lemah. Al-Albani ingin kitab yang hanya memakai hadits shahih dan mengambil kebaikan dari semua madzhab.
Kesimpulan: kitab ini lahir dari sebuah masalah nyataImam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, dan Ahmad — keempatnya justru melarang pengikutnya bertaqlid buta kepada mereka. Bermadzhab tidak tercela; yang tercela adalah fanatik buta.
Kesimpulan: dalil di atas perkataan siapa punSatu huruf untuk satu pertemuan — mudah diingat, mudah diurutkan.
50 → 5 → 50
Diwajibkan 50 kali, diringankan menjadi 5 kali, tapi pahalanya tetap 50 kali.
1332 · 16
Lahir tahun 1332 H (1914 M) di Albania · membaca rata-rata 16 jam sehari di perpustakaan Azh-Zhahiriyah, Damaskus.
Meski berbeda zaman dan tempat, pesan keempatnya sama persis: "Ambil dalilnya, jangan ambil namaku."
Klik setiap judul untuk membuka isinya. Dalil ditampilkan lengkap dengan teks Arab dan terjemahannya.
"Telah beruntung, telah selamat orang-orang mukmin yang shalatnya khusyuk."
Q.S. Al-Mu'minun: 1–2
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."
Q.S. Al-'Ankabut: 45
| Identitas | Keterangan |
|---|---|
| Nama | Muhammad Nashiruddin, putra Nuh Najati |
| Kunyah | Abu Abdirrahman (dari nama anak sulungnya, Abdirrahman) |
| Kelahiran | Albania, tahun 1332 H / 1914 M |
| Profesi awal | Tukang servis jam — dikenal sangat profesional dan amanah |
| Julukan | Ahli hadits di zaman ini |
"Aku tidak pernah melihat di bawah kolong langit ini seorang ahli ilmu yang sangat tinggi keilmuannya tentang hadits di zaman ini seperti orang yang sangat 'alim, Muhammad Nashiruddin Al-Albani."
— Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah
"Orang yang memiliki ilmu yang sangat banyak tentang hadits" — baik dari sisi riwayah maupun dirayah.
— Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah
"Apabila sebuah hadits terbukti shahih, maka itulah madzhab (pendapat)-ku."
"Tidak halal bagi seseorang mengambil pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya."
"Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku."
"Karena kami adalah manusia — hari ini berpendapat dengan satu pendapat, besoknya bisa berpendapat lain."
"Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa — bisa salah dan bisa benar. Maka periksalah pendapatku: setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, ambillah. Dan setiap pendapatku yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, tinggalkanlah."
"Setelah Nabi ﷺ, tidak seorang pun kecuali pendapatnya dapat diambil dan dapat pula ditinggalkan — kecuali Nabi Muhammad ﷺ."
"Jika kalian menemukan di dalam buku-bukuku hal yang berseberangan dengan sunnah Nabi ﷺ, maka berpendapatlah dengan sunnah Rasulullah ﷺ dan tinggalkanlah apa yang aku katakan."
"Ikutilah sunnah itu, dan jangan menoleh kepada perkataan siapa pun."
"Apabila kalian melihatku mengatakan suatu pendapat, sementara sudah ada hadits shahih dari Nabi ﷺ yang bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwa akalku ketika itu telah hilang."
"Setiap hadits dari Nabi ﷺ, maka itulah pendapatku — walaupun kalian tidak mendengarnya dariku."
"Jangan bertaqlid buta kepadaku, jangan pula kepada Imam Malik, Asy-Syafi'i, Al-Auza'i, dan Ats-Tsauri. Ambillah dari mana mereka mengambil (yaitu dalilnya)."
"Jangan bertaqlid buta dalam urusan agamamu kepada salah seorang pun dari mereka. Apa pun yang datang dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya, ambillah. Kemudian perkataan tabi'in; setelah generasi itu, seseorang bebas memilih untuk mengikuti atau tidak — sesuai dalilnya."
Cara pakainya: baca pertanyaannya, jawab dulu dalam hati, baru klik kartunya untuk melihat jawaban. Cara ini jauh lebih kuat menempel di ingatan daripada sekadar membaca ulang.
Pilih satu jawaban untuk tiap soal. Setiap jawaban langsung diberi pembahasan singkat, jadi salah pun tetap menambah ilmu.
Istilah-istilah yang muncul di materi ini, dijelaskan dengan bahasa sehari-hari.