SIFAT SHALAT NABI ﷺ

Modul Belajar Interaktif
Pertemuan 001 – 005

Kitab Shifatu Shalatin Nabiyyi ﷺ minat-Takbiri ilat-Taslim Ka-annaka Taraha
(Sifat Shalat Nabi ﷺ Mulai dari Takbir sampai Salamnya, Seakan-akan Anda Melihatnya)

Karya Asy-Syaikh Al-Albani rahimahullah  •  Pemateri: Ustadz Dr. Musyaffa Ad Dariny, M.A. hafizhahullah

Peta Alur 5 Pertemuan

Kelima pertemuan ini bukan potongan terpisah. Semuanya satu alur logis yang menjawab satu pertanyaan besar: mengapa kita perlu belajar shalat dari dalil, bukan sekadar ikut-ikutan?

001

Mengapa Shalat Begitu Penting?

Shalat adalah rukun Islam ke-2, amal pertama yang dihisab, dan pengontrol perilaku seorang hamba. Kalau sepenting ini, wajar kalau kita harus belajar melakukannya dengan benar.

Kesimpulan: shalat menentukan nasib amal yang lain
002

Siapa yang Menulis Kitab Ini?

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani — dari tukang servis jam menjadi ahli hadits terbesar di zaman ini, karena ketekunan luar biasa (rata-rata 16 jam sehari membaca di perpustakaan).

Kesimpulan: penulisnya bukan orang sembarangan
003

Sejauh Mana Beliau Diakui?

Murid-muridnya menjadi ulama besar, karyanya fenomenal, dan Syaikh Bin Baz serta Syaikh Al-Utsaimin memuji beliau setinggi-tingginya. Ini yang membuat kitabnya layak dipercaya.

Kesimpulan: kredibilitas ilmiahnya kuat
004

Kenapa Kitab Ini Ditulis?

Karena kitab-kitab shalat yang ada umumnya terikat satu madzhab saja dan memuat banyak hadits lemah. Al-Albani ingin kitab yang hanya memakai hadits shahih dan mengambil kebaikan dari semua madzhab.

Kesimpulan: kitab ini lahir dari sebuah masalah nyata
005

Apa Kata Para Imam Madzhab Sendiri?

Imam Abu Hanifah, Malik, Syafi'i, dan Ahmad — keempatnya justru melarang pengikutnya bertaqlid buta kepada mereka. Bermadzhab tidak tercela; yang tercela adalah fanatik buta.

Kesimpulan: dalil di atas perkataan siapa pun

Jembatan Keledai: Rumus 5-S

Satu huruf untuk satu pertemuan — mudah diingat, mudah diurutkan.

S — SHALAT001 · Kedudukan & keutamaannya
S — SIAPA002 · Siapa penulis kitabnya
S — SANJUNGAN003 · Pujian ulama & karyanya
S — SEBAB004 · Sebab kitab ini ditulis
S — SUNNAH005 · Sunnah di atas segalanya

Angka yang mudah diingat

50 → 5 → 50

Diwajibkan 50 kali, diringankan menjadi 5 kali, tapi pahalanya tetap 50 kali.

Angka Syaikh Al-Albani

1332 · 16

Lahir tahun 1332 H (1914 M) di Albania · membaca rata-rata 16 jam sehari di perpustakaan Azh-Zhahiriyah, Damaskus.

Satu kalimat untuk 4 Imam

Meski berbeda zaman dan tempat, pesan keempatnya sama persis: "Ambil dalilnya, jangan ambil namaku."

Ringkasan Materi per Pertemuan

Klik setiap judul untuk membuka isinya. Dalil ditampilkan lengkap dengan teks Arab dan terjemahannya.

  • Shalat adalah rukun Islam yang kedua, kedudukannya sangat tinggi di sisi Allah dan merupakan ibadah yang sangat dicintai-Nya.
  • Bukti kecintaan Allah pada syariat shalat: di awal pewajibannya Allah menghendaki shalat wajib dijalankan sampai 50 kali. Karena Allah mengetahui kelemahan kita, akhirnya dicukupkan 5 kali — namun pahalanya tetap seperti 50 kali.
  • Amal pertama yang dihisab pada hari kiamat. Bila shalatnya baik, insyaAllah amal yang lain ikut baik. Bila shalatnya buruk, amal yang lain tidak akan dilihat oleh Allah. Shalat inilah penentu keberuntungan dan keselamatan manusia.
  • Shalat berfungsi sebagai pengontrol. Bila shalatnya baik dan sempurna, ketakwaannya bertambah; bila ketakwaan bertambah, ia takut melakukan keburukan.
قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ ﴿١﴾ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ ﴿٢﴾

"Telah beruntung, telah selamat orang-orang mukmin yang shalatnya khusyuk."

Q.S. Al-Mu'minun: 1–2

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar."

Q.S. Al-'Ankabut: 45

Poin kunci: shalat yang dimaksud Allah dalam ayat-ayat di atas adalah shalat yang baik, sempurna, dihayati, direnungi, dan sesuai dengan tuntunan Nabi ﷺ — bukan sekadar gerakan yang gugur kewajibannya. Inilah alasan kita perlu mempelajari kitab ini.
IdentitasKeterangan
NamaMuhammad Nashiruddin, putra Nuh Najati
KunyahAbu Abdirrahman (dari nama anak sulungnya, Abdirrahman)
KelahiranAlbania, tahun 1332 H / 1914 M
Profesi awalTukang servis jam — dikenal sangat profesional dan amanah
JulukanAhli hadits di zaman ini
  • Sangat tekun. Beliau belajar bersama ayahnya (yang bermadzhab Hanafi) dan dikenal sangat tekun dalam apa pun yang beliau jalani, termasuk pekerjaan memperbaiki jam.
  • Toko jamnya sampai tutup. Kecintaan beliau kepada ilmu hadits membuat beliau sering tidak datang melayani pelanggan, sampai akhirnya tokonya tutup.
  • Ayahnya justru melarang. Beliau tidak disarankan mempelajari ilmu hadits karena latar belakang madzhab Hanafi keluarganya.
  • 16 jam sehari membaca. Ketika belajar di Maktabah Azh-Zhahiriyah, Damaskus, beliau membaca rata-rata 16 jam sehari. Karena begitu seringnya, penjaga perpustakaan sampai memberikan kunci kepada beliau.
  • Merapikan manuskrip. Di perpustakaan itu banyak kitab yang masih berupa tulisan tangan (makhthuth) — karya ulama terdahulu sebelum adanya mesin cetak. Semuanya dirapikan dan banyak dibaca oleh beliau.
  • Semangat menyebarkan ilmu. Saat menjadi dosen di Jami'ah Islamiyyah Madinah, waktu istirahat setelah mengajar beliau gunakan untuk menjawab pertanyaan murid — sampai menjadi pemandangan biasa beliau dikerumuni mahasiswa setiap keluar kelas.
Latar belakang yang perlu dipahami: pada zaman Imam Abu Hanifah, banyak hadits lemah tersebar di Irak. Karena itu beliau sangat ketat dalam menerima hadits, sehingga hadits yang beliau pakai relatif sedikit dan beliau banyak berfatwa dengan qiyas. Seiring waktu, sebagian pengikut beliau menjadi fanatik pada fatwa-fatwa tersebut, sehingga hadits yang datang kemudian banyak yang ditakwil. Inilah sebabnya sebagian kalangan tidak menyarankan belajar ilmu hadits.
  • Sangat miskin, tapi ilmunya sangat diberkahi. Saking miskinnya, beliau kadang tidak punya kertas untuk menulis — beliau memakai kertas bungkus makanan. Karena tidak bergaris, beliau mencelupkan benang ke tinta lalu membuat garis sendiri agar bisa menulis rapi.
  • Bukan mufti dan tidak berkedudukan tinggi di sebuah negara, namun ilmunya tersebar luas lewat murid-muridnya.
DI ANTARA MURID-MURID BELIAU
• Syaikh Muqbil bin Hadi (ulama besar Yaman)
• Syaikh Muhammad Jamil Zainu (ulama besar Makkah, dahulu dari kelompok Sufi lalu mendapat hidayah)
• Syaikh Ali Hasan Al-Halabi
• Syaikh Rabi' bin Hadi Al-Madkhali
• Syaikh Masyhur Hasan Salman (sangat banyak karangannya)
DI ANTARA KARYA BELIAU
Sifat Shalat Nabi ﷺ — ringkas tapi penuh faedah
Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah — belum pernah ada kitab hadits seperti ini sebelumnya
Silsilah Al-Ahadits Adh-Dha'ifah wal Maudhu'ah — mengumpulkan hadits yang dha'if bahkan palsu
Irwa'ul Ghalil fi Takhrij Ahadits Manaris Sabil

"Aku tidak pernah melihat di bawah kolong langit ini seorang ahli ilmu yang sangat tinggi keilmuannya tentang hadits di zaman ini seperti orang yang sangat 'alim, Muhammad Nashiruddin Al-Albani."

— Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah

Syaikh Bin Baz pernah ditanya tentang hadits bahwa Allah mengutus pada umat ini setiap seratus tahun orang yang memperbarui agamanya — siapakah yang pantas menyandang sifat itu di zaman ini? Beliau menjawab: "Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Dialah orang yang memperbarui agama Allah di zaman ini dalam persangkaanku."
ذُو عِلْمٍ جَمٍّ فِي الحَدِيثِ

"Orang yang memiliki ilmu yang sangat banyak tentang hadits" — baik dari sisi riwayah maupun dirayah.

— Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah

  • Buahnya sangat besar. Sebelum Syaikh Al-Albani menghidupkannya kembali, ilmu hadits kurang menarik bagi kebanyakan kaum muslimin. Setelah beliau, ilmu hadits kembali digemari, banyak ulama menekuninya, dan pendapat-pendapat lama yang dahulu seolah tidak bisa dikoreksi ternyata bisa diperiksa ulang bila menyelisihi hadits Nabi ﷺ.
  • Pemicunya. Saat mengajarkan kitab hadits At-Targhib wat Tarhib, beliau menjelaskan keutamaan-keutamaan shalat. Melihat betapa tingginya keutamaan itu, beliau tertarik menulis kitab khusus tentang shalat.
  • Masalah yang beliau temukan pada kitab-kitab yang sudah ada:
      ① Kebanyakan terikat pada satu madzhab tertentu;
      ② Tidak mengambil kebaikan dari madzhab yang lain;
      ③ Banyak memuat hadits-hadits yang lemah.
  • Dua komitmen beliau dalam kitab ini:
      ① Mewajibkan diri hanya menyebut hadits shahih atau yang bisa dijadikan sandaran hukum;
      ② Mengumpulkan kebaikan dari seluruh madzhab, bukan mengkhususkan satu madzhab saja.
  • Kritik beliau dalam muqaddimah: mengapa harus mengkhususkan diri pada madzhab tertentu saja, seolah-olah madzhab lain adalah syariat yang berbeda? Seakan-akan ketika memilih madzhab Syafi'i harus Syafi'i dari awal sampai akhir, memilih Maliki harus Maliki dari awal sampai akhir.

Perkataan Imam Abu Hanifah rahimahullah

إِذَا صَحَّ الْحَدِيثُ فَهُوَ مَذْهَبِي

"Apabila sebuah hadits terbukti shahih, maka itulah madzhab (pendapat)-ku."

لَا يَحِلُّ لِأَحَدٍ أَنْ يَأْخُذَ بِقَوْلِنَا مَا لَمْ يَعْلَمْ مِنْ أَيْنَ أَخَذْنَاهُ

"Tidak halal bagi seseorang mengambil pendapat kami selama dia tidak mengetahui dari mana kami mengambilnya."

حَرَامٌ عَلَى مَنْ لَمْ يَعْرِفْ دَلِيلِي أَنْ يُفْتِيَ بِكَلَامِي

"Haram bagi orang yang tidak mengetahui dalilku untuk berfatwa dengan perkataanku."

فَإِنَّنَا بَشَرٌ نَقُولُ الْقَوْلَ الْيَوْمَ وَنَرْجِعُ عَنْهُ غَدًا

"Karena kami adalah manusia — hari ini berpendapat dengan satu pendapat, besoknya bisa berpendapat lain."

Perkataan Imam Malik rahimahullah

إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ أُخْطِئُ وَأُصِيبُ، فَانْظُرُوا فِي رَأْيِي، كُلُّ مَا وَافَقَ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَخُذُوهُ، وَكُلُّ مَا لَمْ يُوَافِقِ الْكِتَابَ وَالسُّنَّةَ فَاتْرُكُوهُ

"Sesungguhnya aku hanyalah manusia biasa — bisa salah dan bisa benar. Maka periksalah pendapatku: setiap pendapatku yang sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, ambillah. Dan setiap pendapatku yang tidak sesuai dengan Al-Kitab dan As-Sunnah, tinggalkanlah."

لَيْسَ أَحَدٌ بَعْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِلَّا وَيُؤْخَذُ مِنْ قَوْلِهِ وَيُتْرَكُ إِلَّا النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

"Setelah Nabi ﷺ, tidak seorang pun kecuali pendapatnya dapat diambil dan dapat pula ditinggalkan — kecuali Nabi Muhammad ﷺ."

Prinsip yang dibangun: ketika seseorang berpendapat, kita boleh mengikutinya dan boleh menyelisihinya — tergantung apakah pendapat itu sesuai dalil atau tidak. Bila sesuai, kita mengikutinya; hakikatnya kita sedang mengikuti dalilnya, bukan orangnya.

Perkataan Imam Asy-Syafi'i rahimahullah

إِذَا وَجَدْتُمْ فِي كِتَابِي خِلَافَ سُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُولُوا بِسُنَّةِ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَدَعُوا مَا قُلْتُ

"Jika kalian menemukan di dalam buku-bukuku hal yang berseberangan dengan sunnah Nabi ﷺ, maka berpendapatlah dengan sunnah Rasulullah ﷺ dan tinggalkanlah apa yang aku katakan."

فَاتَّبِعُوهَا وَلَا تَلْتَفِتُوا إِلَى قَوْلِ أَحَدٍ

"Ikutilah sunnah itu, dan jangan menoleh kepada perkataan siapa pun."

إِذَا رَأَيْتُمُونِي أَقُولُ قَوْلًا وَقَدْ صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ خِلَافُهُ فَاعْلَمُوا أَنَّ عَقْلِي قَدْ ذَهَبَ

"Apabila kalian melihatku mengatakan suatu pendapat, sementara sudah ada hadits shahih dari Nabi ﷺ yang bertentangan dengannya, maka ketahuilah bahwa akalku ketika itu telah hilang."

كُلُّ حَدِيثٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَهُوَ قَوْلِي وَإِنْ لَمْ تَسْمَعُوهُ مِنِّي

"Setiap hadits dari Nabi ﷺ, maka itulah pendapatku — walaupun kalian tidak mendengarnya dariku."

Perkataan Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah

لَا تُقَلِّدْنِي، وَلَا تُقَلِّدْ مَالِكًا وَلَا الشَّافِعِيَّ وَلَا الْأَوْزَاعِيَّ وَلَا الثَّوْرِيَّ، وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا

"Jangan bertaqlid buta kepadaku, jangan pula kepada Imam Malik, Asy-Syafi'i, Al-Auza'i, dan Ats-Tsauri. Ambillah dari mana mereka mengambil (yaitu dalilnya)."

لَا تُقَلِّدْ دِينَكَ أَحَدًا مِنْ هَؤُلَاءِ، مَا جَاءَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَأَصْحَابِهِ فَخُذْ بِهِ، ثُمَّ التَّابِعِينَ بَعْدُ الرَّجُلُ فِيهِ مُخَيَّرٌ

"Jangan bertaqlid buta dalam urusan agamamu kepada salah seorang pun dari mereka. Apa pun yang datang dari Nabi ﷺ dan para sahabatnya, ambillah. Kemudian perkataan tabi'in; setelah generasi itu, seseorang bebas memilih untuk mengikuti atau tidak — sesuai dalilnya."

Fakta menarik: Imam Ahmad justru melarang perkataannya dibukukan, karena khawatir pengikutnya bertaqlid buta kepada beliau. Namun Allah berkehendak lain — karena keikhlasan beliau, akhirnya lahirlah madzhab Hanbali dari perkataan-perkataan beliau yang dibukukan oleh murid-muridnya.
Contoh dari murid senior Imam Syafi'i: ketika Imam Al-Muzani meringkas kitab Al-Umm yang sangat tebal menjadi ringkasan tipis (dikenal sebagai Mukhtashar Al-Muzani), beliau menulis di muqaddimahnya bahwa ringkasan itu dibuat bukan agar orang bertaqlid buta kepada Imam Syafi'i, melainkan "agar orang-orang bisa berhati-hati dalam agamanya."

Kesimpulan Besar Materi 004–005

✔ TIDAK TERCELA
Bermadzhab — menisbatkan diri pada satu madzhab sambil tetap terbuka pada dalil. Di awal-awal Islam, orang menisbatkan diri pada madzhab tertentu, tetapi bila melihat pendapat lain yang dalilnya lebih kuat, mereka mengambilnya.
✘ TERCELA
Fanatik buta pada madzhab — sudah ada hadits yang jelas shahih menjelaskan hukum suatu masalah, tetapi tetap mengikuti madzhabnya.
Alasannya sederhana: tidak ada yang lebih mulia dan lebih tinggi perkataannya melebihi Rasulullah ﷺ, kecuali Allah Subhanahu wa Ta'ala. Jika perkataan seorang Imam dibandingkan dengan perkataan Rasulullah ﷺ — mana yang lebih berhak diikuti? Jelas perkataan Rasulullah ﷺ.

Kartu Hafalan

Cara pakainya: baca pertanyaannya, jawab dulu dalam hati, baru klik kartunya untuk melihat jawaban. Cara ini jauh lebih kuat menempel di ingatan daripada sekadar membaca ulang.

1 / 27
Pertemuan 001
👆 klik kartu untuk melihat jawaban
Jawaban
👆 klik untuk kembali ke pertanyaan

Uji Pemahaman — 12 Soal

Pilih satu jawaban untuk tiap soal. Setiap jawaban langsung diberi pembahasan singkat, jadi salah pun tetap menambah ilmu.

Skor: 0 / 12
Belum ada jawaban. Silakan mulai dari soal nomor 1.

Kamus Istilah

Istilah-istilah yang muncul di materi ini, dijelaskan dengan bahasa sehari-hari.